MY MENU

News

News

Judul
Stimulus AS Dongkrak Harga Minyak Dunia
Penulis
Bisnis Indonesia
Tanggal Diciptakan
03/26/2020
Lampiran0
Views
151
Konten
Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Rabu (25/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan ditopang oleh paket stimulus AS untuk mengurangi dampak pandemi virus corona kepada ekonomi.

Mengutip Antara, Kamis (25/3), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik 24 sen atau 0,9 persen ke posisi US$27,39 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 48 sen atau 2 persen menjadi US$24,49 per barel.

Pemerintah dan senator AS telah sepakat tentang rancangan undang-undang (RUU) terkait stimulus ekonomi sebesar US$2 triliun. Targetnya, RUU itu akan disahkan kongres pada Rabu (25/3) waktu setempat sehingga membantu memperbaiki kondisi pasar.


Sebagaimana diketahui, permintaan bahan bakar diperkirakan turun tajam pada kuartal kedua 2020. Sebab, sebagian besar penerbangan terhenti dan perjalanan darat sangat dibatasi untuk meredam penyebaran virus corona. Baru-baru ini, India sebagai negara terpadat kedua di dunia dan konsumen minyak terbesar ketiga juga melakukan penutupan selama 21 hari.

Tercatat, permintaan bahan bakar turun hampir 2,1 juta barel per hari (bph) selama sepekan kemarin. Kepala eksekutif pedagang minyak terbesar dunia, Vitol Group memperkirakan permintaan turun 15 juta hingga 20 juta bph selama beberapa minggu ke depan. Akibatnya, prospek kinerja perusahaan minyak berubah sangat pesimis di tengah pandemi virus corona.

Sebuah survei terhadap perusahaan-perusahaan minyak dan gas oleh Dallas Federal Reserve Bank menunjukkan indeks aktivitas bisnis anjlok dari minus 4,2 pada kuartal keempat 2019 menjadi minus 50,9 pada kuartal pertama 2020. Itu merupakan angka terendah selama empat tahun survei digelar.

"Kami memasuki harga energi terburuk dalam seumur hidup saya," kata seorang responden.

Harga minyak anjlok lebih dari 45 persen bulan ini. Selain pandemi, kegagalan OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain, termasuk Rusia menyetujui perpanjangan pemangkasan produksi menambah keterpurukan pasar.

"Ini mengingatkan saya pada jatuhnya harga 1998 dan apa yang terjadi pada kapasitas produksi kami untuk dekade berikutnya," kata mitra di Again Capital Management di New York John Kilduff.

Salin URL

Pilih semua URL dibawah untuk disalin

Edit komentar

Masukkan kata sandi untuk mengedit postingan

Hapus komentarHapus postingan

Masukkan kata sandi untuk menghapus postiingan