MY MENU

News

News

Judul
Ketegangan China-Australia Jadi Berkah Buat PTBA
Penulis
Abinawa Putri
Tanggal Diciptakan
01/05/2021
Lampiran0
Views
265
Konten

Mengawali tahun Kerbau Logam, harga batu bara terus menyeruduk hingga ke level di atas US$ 75 per ton. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mentapkan harga batu bara acuan (HBA) untuk bulan Januari ada di angka US$75,84 per ton. 


Tidak tanggung-tanggung, kenaikannya mencapai lebih dari 24% dibanding dengan HBA pada Desember 2020 yakni sebesar US$ 59,65 per ton. Berdasarkan keterangan resminya, Kementerian ESDM menyatakan,  pemulihan pasar terutama di Tiongkok, menjadi faktor utama kenaikan komoditas batubara.


Maklum, China merupakan pasar utama bagi Indonesia setelah India. Terlebih, ketegangan hubungan perdagangan antara China dengan Australia membuat harga batu bara kian menjulang. 


Sepanjang tahun 2020, rata-rata HBA hanya sebesar US$ 58,17 per ton dan menjadi yang terendah sejak 2015. Pada Januari tahun lalu, harga emas hitam ini dibuka pada angka US$ 65,93 per ton dan terus menguat di Februari dan Maret ke angka US$ 66,89 per ton dan US$ 67,08 per ton.


Namun, harga batu bara mulai menukik sejak April hingga September. Bahkan di September 2020, harga batu bara menyentuh level terendah yakni US$ 49,42 per ton sebelum kembali rebound di Oktober hingga saat ini. 


Harga kontrak batu bara di ICE Newcastle pun terus merangkak naik. Harga pengiriman Februari kini ada di level US$ 81.4 per ton. Tidak hanya perkara harga batu bara, rencana hilirisasi emiten pelat merah ini pun menjadi sorotan invsestor, terutama pemodal asing. 


Pada perdagangan Senin (4/1), investor asing mencatatkan beli bersih di saham PTBA sebesar Rp 26,12 miliar.  


Bukit Asam berencana mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi dymethil ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. PTBA menggandeng PT Pertamina (Persero) dan Air Product untuk mengerjakan proyek tersebut.


Perseroan akan memasok kebutuhan batubara untuk fasilitas gasifikasi, sedangkan Air Product akan bertindak sebagai penyedia teknologi dan investor. Adapun Pertamina berperan sebagai offtaker atau pembeli produk DME hasil dari proyek tersebut.


Proyek jumbo bernilai US$ 2,1 miliar ini ditetapkan menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). Pabrik gasifikasi batubara ini diproyeksikan mampu menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun. 


Hasil produksi ini diharapkan mampu mengurangi impor LPG sebanyak 1 juta ton per tahun. Artinya, total penghematan neraca perdagangan berkat proyek tersebut diperkirakan sebesar Rp 5,5 triliun per tahun.

Salin URL

Pilih semua URL dibawah untuk disalin

Edit komentar

Masukkan kata sandi untuk mengedit postingan

Hapus komentarHapus postingan

Masukkan kata sandi untuk menghapus postiingan

Customer Service 150350 (Indonesia) Support