MY MENU

News

News

Judul
Asing Masuk ke Proyek Tol Rp 54 T, Diantaranya Milik WKST
Penulis
Abinawa Putri
Tanggal Diciptakan
10/04/2021
Lampiran0
Views
69
Konten

Ada kabar baik bagi PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Rencana divestasi ruas tol sebagai bagian dari strategi demi memperoleh dana segar dan menurunkan utang akan segera terlaksana. 

Belum lama ini, Masyita Crystallin, Juru Bicara Indonesia Investment Authority (INA) mengungkapkan, ada 3 sovereign wealth fund (SWF) asing yang sudah sepakat untuk berinvestasi ke sektor infrastruktur tematik yang dibuat INA di bidang jalan tol. 

Ketiga SWF itu adalah Abu Dhabi Investment Authortiy (ADIA), Caisse de Depot et Placement du Quebec (CDPQ) yang merupakan salah pengelola dana pensiun terbesar Kanada, dan pengelola dana pensiun asal Belanda APG. 

Total dana investasi yang akan digelontorkan mencapai US$ 3,75 miliar atau mencapai Rp 54 triliun. Kepada Bisnis Indonesia, Direktur Utama WSKT Destiawan Soewardjono mengaku, pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan INA untuk melepas 3 ruas yang merupakan bagian dari Trans Jawa. 

Ketiga ruas tol itu adalah Pasuruan-Probolinggo, Kanci-Pejagan, dan Pejagan-Pemalang. Destiawan memperkirakan, proses pelepasan aset jalan tol milik perseroan ke INA itu secepatnya akan rampung pada tahun depan. 

Adapun, hingga akhir tahun ini, WSKT berharap bisa merampungkan divestasi 2 aset jalan tol lainnya yakni  Cibitung-Tanjung Priok kepada PT Pelindo II (Persero) dan ruas Cimanggis-Cibitung ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Bila divestasi 2 ruas tol tersebut selesai, maka perseroan masih memiliki 8 ruas jalan tol yang akan ditawarkan kepada investor potensial. Ada 2 ruas tol yang memiliki RDPT, salah satunya ruas tol Bekasi-Cawang -Kampung Melayu.

Destiawan menargetkan, sudah bisa melepas semua ruas tol yang menjadi target divestasi itu pada 2023 mendatang. Jika berhasil, maka penurunan tingkat utang perseroan bisa mencapai Rp 40 triliun. 

Mengutip laporan keuangan Waskita Karya, per akhir Juni 2021 total kewajiban perseroan mencapai Rp 89,73 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari Rp 48,59 triliun utang jangka pendek dan Rp 41,15 triliun merupakan kewajiban jangka panjang. 

Di saat yang sama, perseroan tetap fokus untuk mempertebal likuiditas melalui perolehan kontrak baru. Hingga Agustus 2021, perusahaan konstruksi pelat merah itu berhasil mengantongi kontrak baru senilai Rp10,8 triliun.

Realisasi itu telah mencapai 52,68% dari target yang dipasang perseroan untuk tahun ini senilai Rp20,5 triliun.

Selain dari proyek domestik, Waskita Karya juga tengah menanti proyek jumbo dari luar negeri. Destiawan mengatakan terdapat potensi proyek senilai US$1,5 miliar-US$1,8 miliar atau lebih dari Rp20 triliun di Afrika.

Namun, saat ini proyek tersebut masih dalam tahap diskusi untuk konsep pembiayaannya. Alasannya, proyek tersebut diharapkan dibayar menggunakan infrastruktur dalam hal ini minyak mentah.

Isu adanya investor asing dan perkembangan proyek WSKT ini meniupkan sentimen positif ke perseroan. Pada perdagangan Jumat (1/10), pemodal asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan aksi beli dengan total net buy sebesar Rp 48,45 miliar. 

Hal ini mendorong total transaksi perseroan mencapai Rp 347,92 miliar. Sebagian investor membeli melalui Mirae Asset Sekruitas Indonesia dengan total nilai sekitar Rp 51,50 miliar dan melalui broker kompetitor sekitar Rp 19,23 miliar

Salin URL

Pilih semua URL dibawah untuk disalin

Edit komentar

Masukkan kata sandi untuk mengedit postingan

Hapus komentarHapus postingan

Masukkan kata sandi untuk menghapus postiingan

Customer Service 150350 (Indonesia) Support